![]() |
| Moment kajian di PPDS (Pusat) Pakong Bangkalan |
Tradisi intelektual Islam, nama Ibn Arabi sering menjadi perdebatan panjang antara kalangan sufi, filosof, dan ulama fikih. Pemikirannya tentang wahdah al-wujud menghadirkan cara pandang spiritual yang sangat mendalam mengenai hubungan Tuhan, manusia, dan alam semesta. Dalam kajian mingguan PMII Komisariat STAIDA, pemikiran Ibn Arabi tidak hanya dipahami sebagai gagasan tasawuf klasik, tetapi juga dibaca secara kritis sebagai bagian dari dinamika pemikiran Islam yang terus berkembang. Sebab bagi kader PMII, tradisi berpikir tidak cukup hanya menerima warisan intelektual secara utuh, melainkan juga harus mampu mengkritisi, mengontekstualisasi, dan menyesuaikannya dengan realitas sosial zaman sekarang.
Salah satu kritik utama terhadap Ibn Arabi muncul pada konsep wahdah al-wujud yang dianggap dapat mengaburkan batas antara Tuhan dan makhluk. Dalam diskusi kajian, persoalan ini sering dikaitkan dengan pentingnya menjaga kemurnian tauhid dalam Islam. Beberapa ulama seperti Ibn Taymiyyah bahkan menilai bahwa pemikiran tersebut berpotensi menjerumuskan pada pemahaman penyatuan Tuhan dengan manusia. Kritik ini menunjukkan bahwa pemikiran tasawuf tidak selalu diterima secara mutlak oleh seluruh tradisi Islam. Dari sudut pandang peserta kajian, perdebatan ini justru memperlihatkan bahwa Islam memiliki tradisi intelektual yang dinamis dan terbuka terhadap kritik. Perbedaan pandangan bukan untuk saling menyesatkan, tetapi menjadi ruang dialektika dalam mencari kebenaran.
Selain persoalan akidah, pemikiran Ibn Arabi juga dikritik karena terlalu filosofis dan sulit dipahami oleh masyarakat umum. Bahasa simbolik dan metaforis dalam karya-karyanya membuat ajarannya lebih mudah dipahami oleh kalangan tertentu yang memiliki dasar keilmuan mendalam. Dalam forum kajian, kondisi ini sering dikaitkan dengan problem elitisme intelektual. Ilmu yang terlalu tinggi tetapi jauh dari realitas masyarakat dikhawatirkan hanya berhenti menjadi wacana akademik tanpa menghadirkan perubahan sosial. Padahal semangat gerakan PMII berpijak pada prinsip keberpihakan terhadap masyarakat bawah, kaum marginal, dan realitas sosial umat.
Kritik lain yang cukup relevan adalah kecenderungan tasawuf metafisis yang terlalu menekankan dimensi batin sehingga terkadang kurang menyentuh persoalan sosial. Dalam konteks modern, umat Islam tidak hanya menghadapi krisis spiritual, tetapi juga ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, konflik kemanusiaan, dan problem pendidikan. Karena itu, kajian PMII melihat bahwa spiritualitas harus berjalan seiring dengan gerakan sosial. Kesalehan tidak cukup hanya diwujudkan dalam pengalaman mistik individual, tetapi juga harus melahirkan keberpihakan terhadap nilai keadilan, kemanusiaan, dan pembebasan sosial sebagaimana semangat hablun min al-Lah dan hablun min al-Nas.
Namun demikian, kritik terhadap Ibn Arabi bukan berarti menolak seluruh pemikirannya. Dalam diskusi kaderisasi PMII, pemikiran Ibn Arabi tetap dipandang memiliki nilai penting, terutama dalam membangun kesadaran spiritual dan penghormatan terhadap kemanusiaan universal. Gagasannya tentang cinta Ilahi dapat menjadi penawar bagi kehidupan modern yang semakin materialistik dan individualistik. Dari sini terlihat penulis menyimpulkan kajian berusaha mengambil jalan tengah tidak menelan pemikiran secara mentah, tetapi juga tidak menolak secara serampangan. Tradisi kritis seperti inilah yang menjadi ruh gerakan intelektual PMII, yakni menjaga keseimbangan antara spiritualitas, rasionalitas, dan tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, kritik terhadap pemikiran Ibn Arabi mengajarkan bahwa perbedaan pandangan dalam Islam merupakan bagian dari kekayaan intelektual umat. Peserta kajian mencoba menghadirkan ruang dialog agar kader tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pembaca realitas. Sebab pemikiran besar tidak lahir untuk disakralkan tanpa kritik, melainkan untuk didialogkan dengan tantangan zaman. Dari sinilah kader PMII STAIDA belajar bahwa intelektualitas sejati bukan sekadar menghafal teori, tetapi keberanian berpikir kritis sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
Penulis: Kader PMII
