Demokrasi adalah napas bagi setiap organisasi. Melalui demokrasi, kader diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, menunjukkan kapasitas, dan mengambil bagian dalam menentukan arah organisasi. Dari proses inilah lahir pemimpin yang tidak hanya dipilih, tetapi juga ditempa oleh dinamika forum dan kepercayaan kader.
Beberapa tahun terakhir, pemilihan Ketua PMII Komisariat STAIDA Bangkalan berlangsung melalui mekanisme aklamasi. Aklamasi tentu merupakan proses yang sah apabila lahir dari kesepakatan bersama. Namun, tahun ini menghadirkan suasana yang berbeda. Demokrasi kembali hidup dengan hadirnya lebih dari satu calon ketua komisariat. Hal ini menjadi tanda bahwa semangat kader untuk berpartisipasi dan mengabdi kepada organisasi semakin tumbuh dan sangat terasa kepedulian-nya, laksana pemilik rumah yang sama-sama berlomba-lomba menghuni rumahnya dengan baik.
Momentum ini patut disyukuri. Bukan karena banyaknya calon, tetapi karena kader memiliki keberanian untuk tampil, berkompetisi secara sehat, dan menawarkan gagasan terbaik bagi organisasi. Sebagaimana dijelaskan Robert A. Dahl, demokrasi yang sehat ditandai oleh partisipasi yang luas dan kompetisi yang terbuka. Nilai inilah yang mulai terasa dalam proses pemilihan kali ini.
Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh kader tetap menjaga persaudaraan, menghormati keputusan forum, dan bersama-sama mengawal kepemimpinan yang terpilih. Sebab, jabatan hanyalah amanah, sedangkan pengabdian kepada PMII adalah tanggung jawab selama kader masih berada didalam-nya.
Semoga kembalinya nadi demokrasi ini tidak hanya menjadi momentum sesaat, tetapi menjadi tradisi yang terus hidup dan berkelanjutan di PMII Komisariat STAIDA Bangkalan. Sebab organisasi yang besar lahir dari kader yang berani maju, siap berkompetisi secara sehat, dan tetap bersatu demi cita-cita serta perjuangan bersama.
Oleh: Athoillah Jauhari (KADER PMII STAIDA)
