Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Transformasi Perempuan “Baperan” Menjadi Agen Perubahan Terbaik



Sepanjang sejarah, perempuan kerap dikonstruksikan sebagai makhluk yang selalu mengedepankan emosi ketimbang logika dalam menghadapi persoalan hidup. Anggapan stereotipikal ini sering kali disederhanakan melalui istilah populer “baperan” (bawa perasaan). Label ini tidak hanya menjadi stigma yang melekat, tetapi juga kerap dijadikan titik lemah untuk mendefinisikan perempuan sebagai makhluk yang berkapasitas intelektual rendah karena dianggap selalu mengedepankan perasaan dalam mengambil keputusan di ruang publik. Oleh karena itu, esai ini menolak keras stigmatisasi emosionalitas perempuan yang umumnya dijadikan alasan untuk mengikis kepercayaan terhadap perempuan di ruang publik. Sebaliknya, esai ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa sifat emosional perempuan justru dapat berfungsi sebagai kompas yang melahirkan keputusan-keputusan rasional dan solutif.

Berangkat dari fenomena tersebut, kita perlu mempertegas dan mempertanyakan kembali stigmatisasi tersebut: bagaimana perempuan yang kerap dicap mengedepankan emosi ini dapat bertransformasi menjadi agen perubahan sosial yang berdampak nyata bagi lingkungannya? Label “baperan” bukanlah titik lemah, melainkan awal dari kepekaan sosial yang mampu membawa perubahan besar. Dengan demikian, label ini harus dilihat sebagai sebuah karakter istimewa dalam memandang dan merespons persoalan secara bijak.

Selama ini, masyarakat cenderung melihat sifat emosional perempuan sebagai penghambat dalam berpikir logis dan rasional. Label “baperan” kerap menjadi senjata untuk memojokkan perempuan dan meremehkan keputusan mereka di ranah publik. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, sifat istimewa ini dapat dijadikan sebagai kacamata untuk memandang persoalan sosial secara lebih luas. Perempuan dengan tingkat emosional yang tinggi mampu melihat, bahkan merasakan ketimpangan yang kerap dianggap remeh oleh pihak lain. Kurangnya kepekaan emosional, baik dari pembuat kebijakan maupun masyarakat umum, sering kali membuat ketimpangan dipandang sebagai masalah kecil yang tidak butuh banyak perhatian. Sikap abai inilah yang membuat ketimpangan semakin merajalela dan baru mendapatkan perhatian ketika dampaknya sudah terlanjur parah. Padahal, sesuatu yang sudah rusak akan jauh lebih sulit diperbaiki. Ketika seorang perempuan terusik atau "baper" melihat ketimpangan di sekitarnya, perasaan itulah yang memicu kepedulian mendalam. Rasa peduli ini kemudian bertransformasi menjadi bahan bakar untuk menggerakkan perubahan sosial, sehingga perempuan mampu melakukan langkah pencegahan sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Sesungguhnya, keterlibatan emosi dalam diri perempuan tidak serta-merta menghilangkan pikiran logis dan rasional mereka. Sebaliknya, emosionalitas dan rasionalitas bisa berjalan beriringan untuk melahirkan keputusan yang solutif. Saat perempuan merasa gelisah dan marah melihat ketimpangan sosial, rasa cemas tersebut menjadi lensa dalam menentukan arah dan tujuan gerakan. Setelah tujuan ditetapkan, barulah kemampuan rasional masuk untuk merumuskan strategi serta tindakan yang efektif. Kombinasi unik inilah yang membuat aksi perempuan tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga terstruktur dalam menyelesaikan masalah kehidupan.

Bukti nyata dari fenomena ini dapat dilihat dari berbagai gerakan sosial yang dipimpin oleh perempuan di tingkat akar rumput. Contohnya adalah Butet Manurung. Ketika resah melihat kondisi pendidikan masyarakat adat, beliau tidak memilih untuk sekadar bersimpati, melainkan mendirikan “Sekolah Rimba”. Dari sini kita bisa melihat bagaimana perasaan seorang perempuan menjelma menjadi gerakan nyata yang berpengaruh besar. Selain itu, ada Aleta Baun yang merasa "baper" (sedih dan marah) melihat gunung batu keramatnya ditambang. Beliau tidak berhenti pada amarah, tetapi mengubah empati tersebut menjadi bukti nyata lewat strategi jitu: mengajak ratusan perempuan untuk menenun di atas batu tambang selama setahun penuh sampai perusahaan tambang angkat kaki. Mengubah empati menjadi sebuah aksi adalah bukti bahwa perempuan dengan emosionalitas tinggi dapat menjadi agen perubahan besar yang berdampak luas. Sebab, aksi tanpa empati hanya akan melahirkan gerakan yang tidak memiliki nyali.

Kesimpulannya, catatan sejarah mengenai emosionalitas perempuan yang tinggi tidaklah salah. Namun, penempatan makna “baperan” yang diartikan sebagai tidak bisa berpikir logis dan rasional itulah yang salah kaprah. Sejatinya, emosi tersebut dapat bertransformasi menjadi aksi-aksi nyata demi sebuah perubahan besar. Rasa yang dimulai dari hati akan melahirkan nyali yang memiliki harga mati. Sebaliknya, ketiadaan rasa “baperan” justru berisiko melahirkan sikap apatis yang selalu merasa aman dan nyaman di tengah kekacauan, serta buta terhadap ketimpangan. Di sinilah perasaan “baperan” hadir sebagai titik awal untuk memulai sebuah aksi perubahan.

 

Oleh: Sahabati Nur Nilawati

Baca Juga
Postingan Terbaru
  • Transformasi Perempuan “Baperan” Menjadi Agen Perubahan Terbaik
  • Transformasi Perempuan “Baperan” Menjadi Agen Perubahan Terbaik
  • Transformasi Perempuan “Baperan” Menjadi Agen Perubahan Terbaik
  • Transformasi Perempuan “Baperan” Menjadi Agen Perubahan Terbaik
  • Transformasi Perempuan “Baperan” Menjadi Agen Perubahan Terbaik
  • Transformasi Perempuan “Baperan” Menjadi Agen Perubahan Terbaik
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad