PMII hari ini sedang berdiri di sebuah persimpangan yang tidak sederhana sebuah titik di mana organisasi harus memilih apakah ingin kembali pada tradisi intelektualnya yang progresif, atau justru mengikuti arus pragmatis yang kian mengambil ruang dalam dinamika kaderisasi. Buku PMII di Simpang Jalan secara tegas memotret kondisi ini, adanya kegamangan arah, berkurangnya dialektika pemikiran, serta pudarnya kesadaran kritis yang dulu menjadi identitas historis organisasi.
Dalam situasi tersebut, gagasan Antonio Gramsci tentang intelektual organik menjadi kunci penting untuk membaca sekaligus menawarkan jalan keluar. Gramsci tidak hanya berbicara tentang kaum intelektual sebagai orang-orang yang menguasai teori, melainkan sebagai mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan realitas sosial secara nyata. Seorang intelektual, bagi Gramsci, bukanlah mereka yang sibuk di ruang baca atau menara gading, melainkan mereka yang hidup bersama masyarakatnya, memahami problem yang muncul di lapangan, dan mempraktikkan pengetahuan untuk transformasi sosial.
Melihat PMII sekarang, kritik yang muncul sering kali mengarah pada menurunnya kualitas intelektual kader. Banyak kegiatan, banyak seremonial, tetapi sedikit ruang yang benar-benar melahirkan kader dengan daya analisis kuat dan keberanian untuk terjun ke persoalan masyarakat. Budaya membaca semakin merosot, tradisi menulis jarang dipupuk, dan diskusi yang dulu menjadi nadi pergerakan kini bergeser menjadi formalitas atau sekadar memenuhi agenda organisasi. Inilah yang oleh buku PMII di Simpang Jalan disebut sebagai hilangnya orientasi gerakan intelektual PMII.
Padahal, sejak awal berdirinya PMII bukanlah organisasi yang dimaksudkan hanya untuk kegiatan seremonial. Ia adalah gerakan yang berpijak pada semangat pembebasan, pada upaya menghadirkan perubahan sosial melalui kader-kader yang sadar, kritis, dan berani untuk bergerak. Dalam kerangka ini, konsep intelektual organik Gramsci bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk dijadikan paradigma baru kaderisasi PMII.
Menjadi intelektual organik berarti seorang kader PMII tidak berhenti pada penguasaan teori. Ia membaca buku, tetapi juga membaca realitas masyarakat. Ia berdiskusi, tetapi juga membersamai problem sosial di sekitarnya. Ia menguasai wacana keislaman dan kemasyarakatan, tetapi juga mampu mengartikulasikannya dalam bentuk gerakan entah melalui advokasi, kajian sosial, tulisan yang mencerahkan, atau tindakan nyata di tengah masyarakat.
Seorang kader PMII yang benar-benar intelektual organik adalah mereka yang menjadikan pengetahuan sebagai energi untuk bergerak, bukan hanya sebagai identitas.
Konsep ini juga sekaligus kritik terhadap kecenderungan kader yang hanya mengejar posisi organisasi tanpa disertai penguatan kapasitas diri. Kader yang baik bukanlah yang paling lantang berbicara dalam forum-forum internal, melainkan yang terus mengasah diri, mengembangkan nalar, belajar memahami zaman, dan tetap membumi dengan persoalan rakyat. Gramsci mengingatkan bahwa setiap orang adalah intelektual, tetapi tidak semua orang memilih untuk menjalankan fungsi intelektualnya. Di sinilah tantangan terbesar kader PMII hari ini, berani memilih menjadi intelektual yang hidup, bukan intelektual simbolik.
Jika PMII ingin keluar dari persimpangan jalan yang digambarkan dalam buku itu, maka kadernya perlu kembali pada tradisi intelektual yang progresif. Menghidupkan budaya baca, merawat diskusi yang substantif, menulis gagasan untuk publik, dan terlibat aktif dalam dinamika sosial merupakan langkah-langkah yang harus kembali ditegakkan. Organisasi ini tidak akan pernah bergerak tanpa kader yang berpikir, dan pemikiran tidak akan berarti apa-apa tanpa tindakan yang terarah.
Pada akhirnya, menjadi kader PMII berarti mengambil tanggung jawab moral untuk terus belajar dan memberi manfaat. Gramsci memberikan gambaran bahwa perubahan besar justru lahir dari mereka yang mampu memadukan teori dan praksis dan PMII membutuhkan sosok-sosok seperti itu untuk tetap relevan. Jalan pulang bagi PMII bukan terletak pada memperbanyak kegiatan, tetapi pada membangun kualitas kader sebagai intelektual organik yang hadir, berpikir, dan bergerak bersama masyarakat.
Penulis: Sahabat Syahrul Anam (Kader PMII STAIDA)