Perkembangan media digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola akses dan penyebaran informasi, termasuk dalam lingkungan organisasi. Berbagai platform digital memberikan kemudahan memperoleh informasi secara cepat dan praktis. Namun, kemudahan tersebut juga berimplikasi pada menurunnya budaya membaca akibat meningkatnya konsumsi informasi yang bersifat singkat dan instan.
Dalam organisasi, budaya membaca merupakan fondasi penting dalam membangun kapasitas intelektual anggota. Melalui membaca, seseorang dapat memperluas wawasan, meningkatkan daya kritis, serta memperkuat kemampuan analisis dan argumentasi. Sebaliknya, rendahnya minat membaca dapat menyebabkan menurunnya kualitas diskusi dan lemahnya pengembangan gagasan dalam organisasi.
Pudarnya budaya membaca juga berpengaruh terhadap kemampuan berbicara di forum organisasi. Kurangnya bahan bacaan sering kali membuat anggota organisasi memiliki keterbatasan referensi sehingga kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Akibatnya, forum organisasi menjadi kurang dinamis dan miskin pertukaran gagasan yang berbobot.
Pada dasarnya, media digital bukanlah penyebab utama pudarnya budaya membaca. Justru, teknologi menyediakan berbagai sumber pengetahuan yang mudah diakses. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah pemanfaatan media digital secara bijaksana untuk mendukung literasi dan pengembangan kapasitas intelektual.
Dengan demikian, media digital seharusnya menjadi sarana penguatan budaya membaca, bukan faktor yang melemahkannya. Organisasi yang mampu memadukan kemajuan teknologi dengan budaya literasi akan lebih siap melahirkan kader yang kritis, komunikatif, dan berwawasan luas.
Oleh: Muhamad Rosyid (Kader PMII STAIDA)
