Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Mencintai Nabi Tanpa Membebani Diri: Memaknai Maulid dengan Bijak




Setiap memasuki bulan Rabiulawal, umat Islam kembali menyambut momentum Maulid Nabi Muhammad SAW. Di berbagai daerah, Maulid diisi dengan pembacaan selawat, pengajian, pembacaan sirah Nabi, hingga berbagi makanan kepada masyarakat. Bagi sebagian masyarakat, Maulid juga telah menjadi tradisi keagamaan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Dalam persoalan Maulid Nabi, para ulama memiliki perbedaan pandangan. Ada yang membolehkan dan memandangnya sebagai tradisi yang baik selama diisi dengan kebaikan. Ada pula yang tidak menganjurkannya karena tidak dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabat. Perbedaan ini semestinya disikapi dengan ilmu dan saling menghormati.


Sebgai bagian dari masyarakat yang menjunjung nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, menjaga tradisi tentu penting. Namun, menjaga tradisi juga harus disertai dengan sikap bijak. Jangan sampai kecintaan kepada Rasulullah SAW justru membuat kita membebani diri sendiri.

Dalam masyarakat, terkadang muncul anggapan bahwa Maulid harus dilaksanakan secara besar-besaran. Hidangan harus banyak dan acara harus meriah. Padahal, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Bahkan, ada yang sampai memaksakan diri atau berutang hanya karena merasa malu jika tidak mampu menyelenggarakan Maulid.


Padahal Allah SWT berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286)


Mencintai Rasulullah SAW mempunyai banyak jalan. Maulid bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan kecintaan kepada beliau. Kita bisa memperbanyak selawat, mempelajari sirah dan akhlaknya, serta menghidupkan sunnah-sunnah beliau. Misalnya, menjaga salat sunnah qabliyah dan ba’diyah, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, berkata baik, dan membantu sesama.


Bukankah akan lebih bermakna jika kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya terlihat ketika bulan Rabiulawal, tetapi juga hadir dalam kehidupan kita setiap hari?

Jika mampu mengadakan Maulid dengan meriah, silakan. Jika hanya mampu secara sederhana, juga tidak perlu merasa rendah diri. Bahkan, jika tidak mampu mengadakan Maulid, bukan berarti seseorang tidak mencintai Rasulullah SAW.


Bagi kita yang ingin menjaga tradisi Aswaja, mari menjaga Maulid dengan cara yang bijak: merawat tradisinya, mengambil nilai baiknya, dan tidak memaksakan sesuatu di luar kemampuan.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa meriah kita memperingati Maulid, tetapi seberapa jauh kecintaan kepada Rasulullah SAW membuat kita mengikuti sunnah dan meneladani akhlaknya.

Sebab, mencintai Nabi bukan hanya tentang bagaimana kita memperingatinya, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.

Oleh: Athoillah Jauhari 

(Kader PMII STAIDA )

Baca Juga
Postingan Terbaru
  • Mencintai Nabi Tanpa Membebani Diri: Memaknai Maulid dengan Bijak
  • Mencintai Nabi Tanpa Membebani Diri: Memaknai Maulid dengan Bijak
  • Mencintai Nabi Tanpa Membebani Diri: Memaknai Maulid dengan Bijak
  • Mencintai Nabi Tanpa Membebani Diri: Memaknai Maulid dengan Bijak
  • Mencintai Nabi Tanpa Membebani Diri: Memaknai Maulid dengan Bijak
  • Mencintai Nabi Tanpa Membebani Diri: Memaknai Maulid dengan Bijak
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad