Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Iman yang Diperdagangkan (Krisis Agama dalam Sorotan Filsafat Abad Pertengahan)

Doc. Internet

sahabatliterasi.net -Salah satu krisis keberagamaan paling serius pada masa kontemporer tidak datang dari serangan eksternal terhadap agama, melainkan dari penyimpangan internal dalam praktiknya. Agama, yang semestinya menjadi jalan pembentukan spiritual dan etis manusia, kerap direduksi menjadi komoditas yang diperjualbelikan oleh oknum tertentu demi keuntungan ekonomi, popularitas, atau kekuasaan. Fenomena yang lazim disebut sebagai “jualan agama” ini menandai pergeseran mendasar, pada agama tidak lagi diposisikan sebagai sarana pembebasan moral, melainkan sebagai alat transaksi simbolik. Dalam membaca gejala tersebut, filsafat abad pertengahan menawarkan lensa kritis yang relevan untuk menyingkap akar krisis keberagamaan dewasa ini.

Para filsuf dan teolog abad pertengahan memahami agama sebagai orientasi hidup menuju kebenaran dan kebaikan tertinggi, bukan sebagai instrumen kepentingan duniawi. Agustinus, misalnya, menekankan bahwa arah hidup manusia ditentukan oleh cinta (amor) yang menggerakkannya, apakah tertuju kepada Tuhan (amor Dei) atau kepada diri sendiri (amor sui). Ketika agama dijadikan barang dagangan, yang sesungguhnya terjadi adalah pergeseran orientasi cinta tersebut. Iman tidak lagi diarahkan pada penghambaan kepada Tuhan, melainkan pada pemuasan kepentingan pribadi. Dalam konteks ini, simbol-simbol religius, janji keselamatan, bahkan legitimasi spiritual direduksi menjadi alat tukar yang bernilai ekonomis.

Krisis ini semakin terang jika dibaca melalui pemikiran Thomas Aquinas mengenai tujuan moral tindakan manusia. Bagi Aquinas, suatu tindakan disebut baik bukan semata karena tampak religius, melainkan karena tujuannya selaras dengan bonum commune kebaikan bersama. Praktik komersialisasi agama, baik dalam bentuk ceramah sensasional, ritual berbayar, maupun eksploitasi emosional umat, jelas mengabaikan prinsip tersebut. Alih-alih menumbuhkan kebajikan, praktik semacam ini justru melahirkan ketergantungan dan manipulasi. Agama pun kehilangan fungsi etisnya dan berubah menjadi industri simbolik yang menguntungkan segelintir pihak.

Tradisi skolastik abad pertengahan juga menempatkan kejujuran intelektual dan otoritas keilmuan sebagai fondasi penting dalam kehidupan beragama. Pengetahuan agama tidak boleh disederhanakan atau dimanipulasi demi kepentingan pasar dan popularitas. Ketika ajaran agama dipotong, dibesar-besarkan, atau dipelintir agar “laku dijual”, yang terjadi bukanlah dakwah, melainkan degradasi kebenaran. Prinsip Anselmus, fides quaerens intellectum iman yang mencari pemahaman menegaskan bahwa iman harus mendorong pendalaman rasional, bukan mengeksploitasi ketidaktahuan umat.

Lebih jauh, fenomena “jualan agama” juga mencerminkan krisis otoritas moral. Tokoh-tokoh yang mengatasnamakan agama kerap tampil sebagai figur publik yang mengejar sorotan, bukan sebagai pembimbing spiritual yang menumbuhkan kebijaksanaan dan keteladanan. Dalam perspektif filsafat abad pertengahan, kondisi ini dapat disebut sebagai bentuk korupsi spiritual. Otoritas religius sejati lahir dari integritas moral dan kedalaman pengetahuan, bukan dari popularitas atau keuntungan ekonomi. Ketika otoritas agama kehilangan integritasnya, kepercayaan umat pun terkikis, dan agama dipersepsikan sebagai alat manipulasi, bukan sumber pembebasan.

Dengan demikian, filsafat abad pertengahan mengajarkan bahwa krisis agama dewasa ini bukan semata-mata akibat modernitas, melainkan akibat pengkhianatan terhadap tujuan luhur agama itu sendiri. Agama yang dijadikan komoditas akan kehilangan daya transformasinya. Menghidupkan kembali semangat filsafat abad pertengahan berarti mengembalikan agama pada orientasi kebenaran, kebajikan, dan kejujuran moral bukan sebagai barang dagangan, melainkan sebagai jalan pembentukan manusia yang bermartabat.

Penulis: Ahmad Ansori RH (Peserta MAPABA STAIDA) 
Baca Juga
Postingan Terbaru
  • Iman yang Diperdagangkan (Krisis Agama dalam Sorotan Filsafat Abad Pertengahan)
  • Iman yang Diperdagangkan (Krisis Agama dalam Sorotan Filsafat Abad Pertengahan)
  • Iman yang Diperdagangkan (Krisis Agama dalam Sorotan Filsafat Abad Pertengahan)
  • Iman yang Diperdagangkan (Krisis Agama dalam Sorotan Filsafat Abad Pertengahan)
  • Iman yang Diperdagangkan (Krisis Agama dalam Sorotan Filsafat Abad Pertengahan)
  • Iman yang Diperdagangkan (Krisis Agama dalam Sorotan Filsafat Abad Pertengahan)
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad