Sekolah Islam Gender (SIG) KOPRI merupakan ruang kaderisasi yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran kritis kader terhadap persoalan keadilan gender dalam bingkai keislaman. Dalam proses ini, Islam progresif digunakan sebagai landasan etis karena bertumpu pada nilai-nilai inti Islam, seperti keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang.
Pendekatan di atas tidak bertujuan merombak ajaran dasar Islam, melainkan mendorong kader untuk memahami teks keagamaan secara lebih kontekstual, sehingga ajaran Islam tetap relevan dan responsif terhadap perubahan sosial yang terus berlangsung.
Dalam kerangka Islam progresif, keadilan gender dimaknai sebagai upaya menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang setara dalam harkat, hak, dan tanggung jawab sosial. Islam tidak menjadikan perbedaan biologis sebagai tolok ukur kemuliaan, melainkan menilai manusia berdasarkan ketakwaan dan integritas moralnya.
Keadaan realitas sosial menunjukkan bahwa relasi gender masih kerap timpang dan sering kali dibenarkan melalui penafsiran keagamaan yang bias patriarki. Oleh sebab itu, SIG KOPRI memiliki peran strategis dalam membekali kader dengan cara pandang kritis agar mampu membaca dan menafsirkan teks keagamaan secara adil dan berperspektif gender.
Melalui pendekatan Islam progresif, kader KOPRI diajak untuk memahami bahwa ketidakadilan gender bukanlah bagian dari ajaran Islam, melainkan lahir dari konstruksi budaya dan penafsiran keagamaan yang tidak sensitif terhadap nilai keadilan.
Berbagai praktik yang membatasi peran perempuan baik dalam ruang publik, kepemimpinan, maupun pengambilan keputusan lebih banyak dipengaruhi oleh tradisi sosial daripada nilai normatif Islam. Karena itu, SIG menjadi sarana penting untuk melatih kader agar mampu membedakan antara ajaran Islam yang ideal dengan praktik sosial yang menyimpang dari semangat keadilan.
Menempatkan Islam progresif sebagai kerangka etis dalam kaderisasi KOPRI berarti menjadikan perjuangan keadilan gender sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran Islam.
Isu keadilan gender tidak dapat dipandang sebagai agenda luar, melainkan sebagai pengejawantahan misi Islam yang menolak segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Dalam konteks ini, kader KOPRI diarahkan tidak hanya sebagai objek kaderisasi, tetapi juga sebagai subjek perubahan yang aktif memperjuangkan tatanan sosial yang adil, setara, dan bermartabat.
Dengan demikian, Sekolah Islam Gender (SIG) KOPRI tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi menjadi ruang pembentukan kesadaran ideologis dan praksis kader. Melalui perspektif Islam progresif, kader KOPRI diharapkan mampu membangun sikap keislaman yang berpihak pada keadilan gender tanpa tercerabut dari nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Inilah bekal penting untuk melahirkan kader perempuan yang kritis, berdaya, dan konsisten memperjuangkan nilai keadilan sosial dan kemanusiaan.
Penulis: Nabila (Anggota PMII STAIDA 2025)