Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Mendobrak Stereotipe: Upaya Sekolah Islam Menanamkan Kesadaran Gender Sejak Dini

Zaman terus bergerak seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi yang menjangkau hampir seluruh penjuru dunia. Bersamaan dengan itu, isu gender kian mengemuka dan menjadi perbincangan publik yang tidak dapat dihindari. Realitas kehidupan sosial manusia selalu dipenuhi oleh kepentingan individu maupun kolektif, termasuk dalam upaya berkiprah di berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, dan pengambilan keputusan sosial. Dalam konteks ini, peran manusia baik perempuan maupun laki-laki menjadi elemen yang tidak terpisahkan.

Pada masa kini, peran perempuan tidak lagi dapat dikesampingkan atau ditempatkan sebagai pelengkap semata. Partisipasi perempuan dalam ruang publik semakin menguat dan menegaskan bahwa pembagian peran berbasis jenis kelamin perlu ditinjau kembali secara kritis. Persoalan tersebut berkaitan erat dengan isu gender, yang kerap disalahpahami dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk terlebih dahulu membedakan secara konseptual antara seks dan gender.

Banyak orang masih menganggap bahwa seks dan gender adalah dua istilah yang sama, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Seks merujuk pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang bersifat kodrati dan tidak dapat dipertukarkan. Perempuan, misalnya, memiliki kodrat biologis untuk melahirkan dan menyusui, sementara laki-laki tidak memiliki kemampuan biologis tersebut. Sebaliknya, gender merupakan konstruksi sosial yang berkaitan dengan peran, fungsi, tanggung jawab, serta perilaku yang dilekatkan masyarakat kepada laki-laki dan perempuan. Karena bersifat sosial, peran gender dapat berubah dan dipertukarkan sesuai dengan konteks budaya dan perkembangan zaman.

Dalam kajian gender, Caroline Moser mengklasifikasikan kebutuhan gender ke dalam dua kategori, yaitu practical gender needs dan strategic gender needs. Practical gender needs merujuk pada kebutuhan dasar yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup sehari-hari, seperti makan, minum, dan belajar. Sementara itu, strategic gender needs berkaitan dengan upaya transformasi struktur sosial agar tercipta relasi yang lebih setara antara laki-laki dan perempuan, seperti akses terhadap pendidikan, kesempatan kerja, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan.

Isu gender juga menjadi diskursus yang cukup hangat di kalangan umat Muslim. Sebagian kelompok berpendapat bahwa Islam tidak memiliki persoalan terkait gender, bahkan cenderung memberi stigma negatif terhadap wacana keadilan gender dan gerakan perempuan. Pandangan ini sering kali muncul dalam penolakan terhadap buku, artikel, maupun seminar yang membahas kesetaraan gender dalam perspektif Islam. Namun, terdapat pula kelompok lain yang berpandangan bahwa persoalan ketidakadilan gender memang ada dan perlu dikritisi secara serius, terutama ketika nilai-nilai agama digunakan untuk membenarkan praktik diskriminatif.

Wacana keadilan gender dalam Islam banyak berkembang di ranah akademik maupun gerakan sosial. Ketidakadilan yang dialami perempuan kerap dilegitimasi atas nama agama, sehingga upaya perubahan sering kali dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan fitrah dan tradisi keagamaan. Padahal, gender sejatinya merupakan pandangan dan keyakinan sosial mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap dan berpikir, bukan ketentuan ilahiah yang bersifat mutlak.

Al-Qur’an secara tegas menegaskan bahwa tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan sebagai manusia, kecuali dalam aspek biologis. Tujuan utama Islam adalah membebaskan manusia dari segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Prinsip keadilan menjadi nilai fundamental dalam ajaran Islam, yang hanya dapat terwujud apabila kelompok-kelompok yang lemah dan terpinggirkan dibebaskan dari penderitaan. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk memperjuangkan keadilan dan membela mereka yang tertindas.

Dalam perspektif kesetaraan gender, Al-Qur’an menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama berposisi sebagai hamba Allah, sama-sama berperan sebagai khalifah di muka bumi, menerima perjanjian primordial yang sama, serta memiliki potensi yang setara untuk meraih prestasi. Sebagai hamba, tidak ada perbedaan nilai antara laki-laki dan perempuan, karena ganjaran di sisi Tuhan ditentukan oleh kualitas pengabdian dan ketakwaan. Beberapa keistimewaan yang diberikan kepada laki-laki, seperti pembagian warisan atau kepemimpinan dalam keluarga, harus dipahami dalam konteks sosial-historis ketika ayat-ayat tersebut diturunkan, bukan sebagai legitimasi superioritas laki-laki secara mutlak.

Dalam konteks ini, sekolah Islam memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran gender peserta didik. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai, sikap, dan cara pandang. Sayangnya, tidak sedikit sekolah Islam yang masih terjebak dalam stereotip gender dan norma sosial patriarkal yang membatasi peran laki-laki dan perempuan. Padahal, nilai-nilai Islam sejatinya menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan keadilan.

Peran guru menjadi sangat penting dalam proses ini. Guru memiliki tanggung jawab moral dan pedagogis untuk menanamkan pemahaman bahwa perbedaan jenis kelamin tidak menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari jenis kelamin, melainkan dari ketakwaannya.

Dengan demikian, sekolah Islam memiliki posisi strategis dalam mempromosikan kesetaraan gender dan membentuk generasi yang memiliki kesadaran keadilan sosial. Melalui kurikulum, metode pembelajaran, dan keteladanan guru, sekolah Islam dapat menjadi wadah yang efektif dalam menumbuhkan pemahaman gender yang adil dan berperspektif Islam. Upaya ini diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang lebih harmonis, adil, dan sejahtera.

Penulis: Latifah Makmun (Anggota PMII 2025) 
Baca Juga
Postingan Terbaru
  • Mendobrak Stereotipe: Upaya Sekolah Islam Menanamkan Kesadaran Gender Sejak Dini
  • Mendobrak Stereotipe: Upaya Sekolah Islam Menanamkan Kesadaran Gender Sejak Dini
  • Mendobrak Stereotipe: Upaya Sekolah Islam Menanamkan Kesadaran Gender Sejak Dini
  • Mendobrak Stereotipe: Upaya Sekolah Islam Menanamkan Kesadaran Gender Sejak Dini
  • Mendobrak Stereotipe: Upaya Sekolah Islam Menanamkan Kesadaran Gender Sejak Dini
  • Mendobrak Stereotipe: Upaya Sekolah Islam Menanamkan Kesadaran Gender Sejak Dini
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad